This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Makna Alif Lam Mim (2 - Habis)

Pada tulisan yang lalu kita sudah membahas pendapat para ulama ahli tafsir tentang tafsir atau makna huruf Alif Lam Mim yang terdapat dalam beberapa surat di Al-Qur’an. Sekarang, kita akan mencoba menggunakan kaidah utama dan pertama dalam menafsirkan Al-Qur’an sebagaimana yang telah dijelaskan Ibnu Katsir, yakni menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an. Menurut as-Suyuthi, pendapat yang tepat adalah bahwa Alif Lam Mim termasuk ayat mutasyabih (samar) yang mengandung rahasia Allah yang maknanya hanya diketahui oleh-Nya. (Rujukan: Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974, juz 1, hal. 190). 

Jika “alif lam mim” adalah pesan rahasia atau pesan tersandi (chipertext), berarti pesan aslinya (plaintext) sudah melalui proses enkripsi. Oleh karena itu, untuk dapat memahami pesan aslinya, kita akan melakukan proses dekripsi terhadap pesan tersebut. Untuk melakukan dekripsi terhadap pesan rahasia, tentu kita membutuhkan kunci (key) atau algoritma enkripsi. Karena kita akan menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya, maka kemungkinan besar kuncinya ada dalam Al-Qur’an itu sendiri. Mari kita cari dulu kuncinya. 

Bicara soal kunci, kunci pesan yang terenkripsi bisa berupa angka. Di dalam Al-Qur’an ada banyak sekali disebutkan tentang angka, tapi di antara angka 1 sampai dengan 99 pasti ada satu angka yang sudah Allah Ta’ala singgung bahwa angka tersebut akan menjadi bukti kebenaran. Angka yang kemungkinan menjadi kunci itu adalah 19 (sembilan belas), sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

“Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan (sembilan belas) itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin, dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" ….. (TQS Al-Mudatsir [74]: 29-31) 

Coba perhatikan ayat tersebut. Jelas di sana disebutkan bahwa angka 19, Allah maksudkan: supaya menjadi bukti kebenaran bagi orang-orang kafir yang mengingkari Al-Qur’an; supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin; supaya orang yang beriman bertambah imannya; dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu. 

Sekarang kita aplikasikan kunci (19) dengan pesan tersandinya. Kita hitung jumlah huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’ dalam surat Al-Baqarah, Alif total 4.502 huruf. Lam total 3.202 huruf. Mim total 2.195 huruf. Jumlah huruf-huruf tersebut adalah 9.899 Lalu kita cek korelasi jumlah huruf tersebut dengan angka kunci yang sudah kita peroleh yakni 19. 

Jika angka 9.899 dibagi dengan 19, maka hasilnya adalah angka bulat, tidak desimal, yakni 521. Secara matematis bisa dituliskan: 

9.899 : 19 = 521 

Jadi jelas jumlah huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’ dalam surat Al-Baqarah merupakan merupakan kelipatan 19. 

“Lalu apa istimewanya dengan hasil pembagian yang merupakan bilangan bulat positif?” Bayangkan jika surat Al-Baqarah tanpa salah satu huruf tersebut, apakah hasil penjumlahan huruf-hurufnya akan memiliki korelasi dengan angka 19? Tentu tidak, tanpa salah satu huruf tersebut, jumlah huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’ tidak akan memiliki hubungan dengan angka 19 karena hasil pembagiannya tidak bulat atau pasti berupa angka desimal. 

Selanjutnya kita perlu menguji hubungan angka 19 dengan huruf-huruf muqatha’ah pada surat-surat lainnya. Secara ringkas, hasil hitung-hitungan jumlah huruf muqatha’ah dan kaitan dengan angka 19 dapat kita sajikan pada tabel berikut: 



Dari tabel tersebut jelas sudah terbukti bahwa huruf-huruf muqatha’ah dalam Al-Qur’an memiliki pola yang sama, yakni jumlah hurufnya dapat dibagi dengan angka 19 dan menghasilkan angka yang bulat utuh atau tidak berkoma (desimal). 

Nah, sampai di sini apakah anda sudah dapat membaca pesan asli (plaintext) dari huruf-huruf muqatha’ah? Belum?? 

Sama, saya juga belum. Namun, setidaknya sekarang kita sudah bisa mengambil hikmah dari huruf-huruf muqatha’ah dalam Al-Qur’an. Pesan tersandi dari Allah tersebut merupakan bukti nyata bahwa tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu memecahkan kode rahasia tersebut. Kode-kode tersebut dibuat oleh Allah dan hanya Allah saja yang bisa memecahkan sandinya, hanya Allah yang tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Terbukti benar firman Allah Ta’ala: 

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS. Al-Hadid [57]: 3) 

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya - dan pasti kamu tidak mampu membuatnya -, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 23-24) 

Mustahil Al-Qur’an dibuat oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bisa baca dan tulis, tidak mengerti huruf arab, apalagi kriptografi. Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa menghitung berapa jumlah huruf alif dalam surat Al-Baqarah, tetapi bisa menyebutkan huruf-huruf muqatha’ah secara tepat dengan jumlah yang tepat dan sangat akurat. Itu berarti, penyebutan huruf-huruf muqatha’ah dalam Al-Qur’an bukanlah ide Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi asli firman Allah Ta’ala. 

Tidak ada satu pun manusia, yang paling cerdas di dunia sekali pun, yang mampu membuat chipertext yang sangat canggih seperti huruf-huruf muqatha’ah. Hanya Allah saja yang mampu membuat pesan tersandi secanggih itu. Al-Qur’an pasti bukan buatan manusia, karena mengandung pesan rahasia yang sangat canggih. Oleh karena itu, Al-Qur'an pasti dibuat oleh Allah Ta’ala, Pencipta alam semesta, Yang Maha Mengetahui. Allah yang menciptakan pesan, melakukan enkripsi, mengetahui kunci, dan mengetahui makna sebenarnya, sementara manusia hanya bisa menebak-nebak saja. Tidak ada satu pun kitab suci di muka bumi yang mengandung kalimat tersandi atau kode rahasia yang sangat canggih seperti Al-Qur’an. 

Dengan demikian, bila dibandingkan dengan kitab-kitab agama lain, hanya Al-Qur’an saja yang bisa dijadikan pegangan dan standard kebenaran.








Makna Alif Lam Mim (1)

Alif, Lam, dan Mim adalah tiga huruf arab yang menjadi bunyi ayat pertama dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, dan As-Sajdah. Apa makna ketiga huruf tersebut? Mengapa Allah Ta’ala menempatkan huruf-huruf “Alif Lam Mim” pada ayat pertama? Mengapa tidak ditempatkan di pertengahan atau sebagai ayat terakhir? Apa hikmah adanya huruf-huruf tersebut dalam Al-Qur’an? 


Huruf-huruf tunggal dalam Al-Qur’an yang menjadi ayat dalam surat disebut dengan huruf muqatha’ah. Ada 29 tempat di dalam Al-Qur’an yang diawali dengan huruf muqatha’ah seperti alif laam miim, yaa sin, tha haa, dll. Karena kita masih awam dalam ilmu tafsir, maka kita perlu merujuk pada pendapat para ulama ahli tafsir. 

Menurut Ibnu Katsir, huruf muqatha’ah kalau dihitung seluruhnya ada 14 huruf (tanpa pengulangan), para ulama pakar tafsir berselisih pendapat mengenai hakikat huruf muqatha’ah yang terdapat di awal-awal surat. Ada ulama yang mengatakan bahwa hanya Allah Ta’ala yang mengetahui maksud huruf muqatha’ah, sehingga hakikat huruf-huruf tersebut diserahkan pada Allah Ta’ala dan para ulama tidak menafsirkannya. Para sahabat Rasulullah sallalllahu alaihi wasallam yang berpendapat seperti ini adalah dari sahabat-sahabat utama yaitu Abu Bakr, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Mas’ud. 

Ada juga ulama yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah memiliki tafsiran. Namun, mereka berselisih pendapat mengenai tafsirannya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah adalah di antara nama Al-Qur’an. Juga ada yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah adalah di antara nama Allah. Bahkan ada pula yang menafsirkan bahwa huruf muqatha’ah adalah sebuah panggilan, seperti misalnya ada yang menafsirkan surat Yasin dengan “wahai manusia”, karena “yaa” adalah huruf nida’ (panggilan) yang berarti wahai, sedangkan “siin” adalah dari kata insan yang berarti manusia. 

Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, pendapat pertama bahwa huruf muqatha’ah itu diserahkan maknanya pada Allah lebih tepat. Sedangkan pendapat kedua yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah adalah nama Al-Qur’an, nama Allah, atau sebuah panggilan tidak didukung dengan dalil yang kuat. 

Ada beberapa pendapat mengenai hikmah huruf muqatha’ah di awal-awal surat: 

1- Untuk menunjukkan awal-awal surat. Namun, menurut Ibnu Katsir pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena tidak semua surat diawali dengan huruf muqatha’ah

2- Supaya Al-Qur’an sampai di tengah orang musyrik yang menentang, sehingga ketika mereka mendengar, mereka mau membaca. Pendapat ini adalah pendapat yang lemah, karena jika maksudnya seperti itu, tentu di setiap awal surat pasti ada huruf muqatha’ah. Begitu pula pendapat ini lemah karena surat Al-Baqarah dan Ali Imran diawali dengan huruf muqatha’ah namun pembicaraannya bukan ditujukan kepada orang musyrik. 

3- Untuk menunjukkan mukjizat Al-Qur’an. Artinya, manusia atau makhluk tidak bisa mendatangkan yang semisal Al-Qur’an, padahal huruf muqatha’ah itu ada dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, setelah penyebutan huruf muqatha’ah, yang dibicarakan selanjutnya adalah tentang Al-Qur’an. Penjelasan ini cocok jika diaplikasikan ke 29 surat yang ayatnya diawali dengan huruf muqatha’ah

Pendapat yang ketiga dikemukakan oleh Fakhrudddin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, didukung pula oleh Az-Zamakhsyari dalam kitab Kasyafnya, dan juga menjadi pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Abu Hajjaj Al-Mizzi. Demikian penjelasan yang disarikan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 241-248. 

Dan saya sendiri lebih condong pada pendapat yang ketiga tersebut, yakni untuk menunjukkan mukjizat Al-Qur'an.

Berikutnya, kita perlu mengetahui cara menafsirkan Al-Qur’an yang benar. Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al-Qur’an sebagai berikut: 

1. Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya. 

2. Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits. 

3. Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkataan para sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu ‘Abbas. 

4. Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (mantan budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 1: 5-16) 

Alif, lam, dan mim dibaca secara terpisah meski tertulis dalam bentuk satu kata. Ayat yang terletak di awal surah seperti ini disebut pula dengan huruf at-tahajji (huruf abjad). Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang ayat-ayat seperti ini. (Lihat Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an karya Muhammad bin Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, [Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H], juz 1, hal. 165) 

Menurut as-Suyuthi, pendapat yang tepat adalah bahwa alif, laam, dan miim termasuk ayat mutasyabih (samar) yang mengandung rahasia Allah (pesan rahasia) yang hanya diketahui oleh-Nya. (Lihat Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an karya Jalaludin as-Suyuthi, [Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974], juz 1, hal. 190) 

Menurut Ibnu Abbas, ayat alif, lam, dan mim dan ayat lain yang sejenis merupakan singkatan dari kalimat tertentu. Ayat alif, lam, dan mim misalnya dimaknai sebagai singkatan dari Ana Allahu ‘Alim (Akulah Allah yang Maha Mengetahui). Dalam kesempatan lain, Ibnu Abbas mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sumpah. (Lihat Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, karya Jalaludin as-Suyuthi, [Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974], juz 1, hal. 190) 

Menurut Qatadah, huruf-huruf tersebut merupakan nama-nama Al-Qur’an. Menurut Mujahid dan Ibnu Zaid, huruf-huruf itu adalah nama-nama surah. Dikatakan nama surah karena jika si fulan membaca, misalnya alif, lam, dan mim, maka pendengar pun mengetahui bahwa fulan sedang membaca sebuah surat yang dibuka dengan alif, lam, dan mim.  

Menurut al-Akhfasy, Allah bersumpah dengan huruf-huruf tersebut. (Lihat Ma’alim at-Tanzil, karya Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, [Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997], juz 1, hal. 59.) 

Menurut at-Tustari, ayat-ayat tersebut adalah nama Allah yang mengandung berbagai makna dan sifat-Nya. Jika ayat tersebut dipisah-pisahkan, maka huruf alif berarti susunan yang diciptakan Allah. Dia menyusun segala sesuatu sesuai dengan yang Ia kehendaki. Sedangkan huruf lam berarti kelembutan-Nya yang abadi. Huruf mim berarti kedermawanan-Nya yang agung. Ayat-ayat yang demikian jika digabungkan satu sama lain akan menjadi kata yang bermakna nama Allah, seperti ayat alif, lam, dan rho, dengan haa mim dan nun, akan menjadi ar-Rahman yang berarti Maha Pengasih. (Lihat Tafsir at-Tustari, Juz 1, hal. 5.) 

Menurut Ibnu Katsir, pandangan-pandangan tersebut mungkin untuk dikompromikan, yaitu bahwa ayat-ayat tersebut merupakan nama-nama surah dan nama-nama Allah yang dipergunakan untuk mengawali suatu surah. Setiap huruf dalam ayat-ayat tersebut menunjuk kepada salah satu nama dari nama-nama Allah serta menunjuk kepada suatu sifat dari berbagai sifat-Nya. Hal itu sesuai dengan kebiasaan Al-Qur’an yang membuka awal surat dengan ungkapan pujian (tahmid), pensucian (tasbih), dan pengagungan (ta’zhim) kepada Allah. (Lihat Tafsir al-Qur’an al-Azhim, karya Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, [Beirut: Dar al-Fikr, 1994], juz 1, hal. 158.) 

Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al-Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al-Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf. Jika mereka tidak percaya bahwa Al-Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wassallam semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al-Quran itu. (Lihat Tafsir al-Qur’an al-Azhim, karya Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, [Beirut: Dar al-Fikr, 1994], juz 1, hal. 160). 

Bahasan mengenai makna alif lam mim ini akan kita lanjutkan lagi pada artikel berikutnya. 







Hari Perhitungan

Setelah manusia mati, manusia akan dibangkitkan kembali menjadi manusia yang utuh, benar-benar utuh sebagaimana dulu ia hidup di dunia sebelum mati. Kebangkitan setelah mati adalah kebenaran yang pasti, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat”. (TQS. Al-Mu’minun [23] : 15-16). Kebangkitan jasad manusia secara utuh setelah hancur akan dimulai dari sel tulang ekor. Setelah dibangkitkan menjadi manusia yang utuh kembali, lalu semua manusia akan berhadapan dengan yaumul hisab. Apa itu yaumul hisab

Sebelum kita membahas yaumul hisab, kita perlu tau dulu, bagaimana kelak kondisi manusia dibangkitkan, apakah sama yang dialami oleh orang-orang beriman dengan orang-orang kafir? 

Orang yang bertakwa, yang mentauhidkan Allah, menaati Allah dan Rasul-Nya, akan dikumpulkan sebagai tamu terhormat, sedangkan orang yang durhaka karena berbuat syirik dan maksiat akan digiring dalam keadaan kehausan seperti hewan ternak, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai utusan terhormat dan Kami akan menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (TQS. Maryam [19] : 85-86). 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dihimpun menghadap Allah Ta’ala dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang (tidak berpakaian), dan tidak disunat (dikhitan)”. Mendengar sabda Rasulullah tersebut, Aisyah radhiyallahu‘anha bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami satu sama lain saling memandangi aurat?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan firman Allah Ta’ala, ”Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (TQS. ‘Abasa [80] : 37). Percakapan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah tersebut dapat dilihat di HR. Muslim No. 2859 dan HR. Tirmidzi dalam kitab Ma’arijul Qobul II/185. 

Yaumul hisab adalah hari perhitungan amal perbuatan manusia selama hidup di dunia, hari diperlihatkannya amalan manusia oleh Allah Ta’ala. Hari perhitungan pasti terjadi, Allah Ta’ala berfirman: 

“Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (TQS. Al-Ghasyiyah [88]: 25-26). 

Bagaimana seorang mukmin dihisab? Allah akan bersendirian dengan seorang mukmin tanpa seorang pun yang melihatnya. Allah akan membuatnya mengakui dosa-dosanya dengan mengatakan kepadanya: “Engkau telah melakukan demikian dan demikian … ” sehingga dia mengakui dan mengenal dosa-dosanya itu. Kemudian Allah katakan, “Aku tutup dosamu di dunia dan Aku mengampunimu hari ini.” 

Lalu bagaimana dengan orang-orang kafir? Orang-orang kafir tidak akan dihisab (diperhitungkan) sebagaimana orang yang ditimbang kebaikan dan kejelakannya, karena kebaikan orang kafir tidak dinilai sama sekali. (Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, 383) Kebaikan-kebaikan orang kafir hanya akan dinilai seperti debu yang beterbangan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (TQS. Al-Furqon [25]:23) 

Setiap perbuatan dan tingkah laku kita hingga yang remeh sekalipun akan dicatat pada kitab amalan. Allah Ta’ala berfirman: 

“”Aduhai celaka kami (orang-orang kafir), kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (TQS. Al-Kahfi [18]:49). 

Kitab tersebut akan memuat catatan amal kebaikan dan kejelekan yang telah kita lakukan di dunia. Kitab tersebut akan diambil di sisi kanan dan kiri. Sungguh beruntung orang mukmin yang mendapat kitab tersebut dengan tangan kanannya dan dia akan sangat berbahagia. Dan sangat merugilah orang kafir yang mendapatkan catatan amalnya dengan tangan kirinya dan dia akan celaka. Setiap orang bersama dengan amalan dan kitab amalannya akan ditimbang di suatu mizan (timbangan) yang memiliki dua daun timbangan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (TQS. Al-Qari’ah [101]: 6-9) 

Sebelum memasuki surga atau neraka, manusia akan melewati Shiroth, yaitu jembatan yang direntangkan di atas neraka jahannam yang akan dilewati umat manusia. Orang beriman akan berjalan melalui shiroth sesuai dengan amalan mereka, sedangkan orang kafir langsung masuk dalam neraka tanpa melewati shiroth. Di antara mereka ada yang berjalan sekejap mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat hembusan angin, ada yang berjalan secepat kuda, ada yang berjalan seperti penunggang unta, ada yang dengan berlari, ada yang dengan berjalan santai, ada yang dengan merangkak, dan ada pula yang jatuh dalam neraka. 

Berjalan di shiroth bukanlah ikhtiyar (usaha) manusia. Seandainya meniti shiroth adalah usaha manusia, tentu semua manusia akan berusaha berjalan melewati shiroth secepat dan sehati-hati mungkin. Namun, manusia melewati shiroth tergantung dari amalannya di dunia. Barangsiapa yang bersegera melakukan amalan sesuai dengan petunjuk Rasulullah, maka dia akan semakin cepat dalam melewati shiroth. Sebaliknya, barangsiapa yang semakin lambat dalam melakukan amalan, maka dia akan semakin lambat pula dalam melewati shiroth. Balasan itu tergantung dari amal perbuatan. (Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, 386-387) 

Barangsiapa yang selamat melewati shiroth, maka dia akan masuk surga. Orang yang pertama kali masuk surga adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada yang masuk ke surga sebelum beliau. (HR. Muslim No.188). 

Umat yang pertama kali akan memasuki surga adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu apakah surga dan neraka saat ini sudah ada? 

Menurut aqidah yang benar, surga dan neraka saat ini sudah ada sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali Imran [3] : 133) dan firman Allah Ta’ala: ”Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang telah disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (TQS. Ali Imran [3] : 131) 

Indahnya surga tidak bisa dibayangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Surga itu disediakan bagi orang-orang sholih, kenikmatan di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati. (HR. Muslim No. 2824) 

Dahsyatnya neraka digambarkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam hanyalah 1 bagian dari 70 bagian dari panasnya api Jahannam. Mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, api di dunia ini saja sungguh sudah cukup (untuk menyiksa).” Maka beliau bersabda, “Maka sesungguhnya api jahannam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya (dari 69 ini) mempunyai panas yang sama seperti api di dunia.” (HR. Al-Bukhari No.3265 dan Muslim No.2843). 

Itulah masa depan kita yang sebenarnya. Cepat atau lambat, bisa besok atau lusa, kita akan mati, jasad kita hancur, lalu Allah bangkitkan lagi kita seperti semula. Hari setelah kita dibangkitkan itulah yang amat sangat penting untuk kita persiapkan sejak sekarang, karena setelah kita dibangkitkan untuk menjalani hidup yang kedua kalinya, tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, tidak ada waktu lagi untuk beramal. 

Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan iman kita agar kita tetap berada di jalan-Nya yang lurus.




Kotak Hitam dan Sel Tulang Ekor

Setiap orang pasti menginginkan masa depan yang lebih baik. Apa arti masa depan bagi kita? Masa depan yang bagaimana yang kita inginkan? Jadi kaya raya belum pasti, punya jabatan tinggi juga belum tentu, lalu apa yang pasti? Masa depan yang pasti bagi kita adalah mati, karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Sudahkah kita mempersiapkan kematian kita dengan baik? Jangan kira setelah manusia mati semua masalah akan berakhir. Setelah kita mati, jasad kita akan dikubur, dan jasad kita akan hancur. Lalu apa yang terjadi setelah kita mati dan jasad kita hancur? 

Allah Ta’ala berfirman: 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (TQS. Ali Imran [3]:185) 

Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah Ta’ala bahwa semua makhluk bernyawa yang Dia ciptakan pasti akan mati. Setelah Allah mematikan manusia, Allah akan membangkitkan kembali manusia seperti semula. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (TQS. Yaasin [36]: 78-79). 

Meski telah Allah tegaskan bahwa Allah akan menyusun kembali tulang belulang manusia yang sudah remuk, tetap saja banyak manusia yang ingkar. Sebagian manusia bertanya, bagaimana caranya tulang belulang yang sudah remuk bisa dibentuk kembali? Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam menjelaskan: 

“Tubuh manusia akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” (HR. Bukhari No.4935) 

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, 

“Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.” (HR. Muslim No.2955) 

Jadi, berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam tersebut, jelaslah bahwa setelah jasad manusia hancur, hanya ada satu bagian (bisa berupa sel atau jaringan) tulang ekor kita yang akan tetap bertahan. 

Selama 1.400 tahun hadits tersebut menjadi misteri yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari. 

Han Spemann, seorang ilmuwan dari Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935, membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Dari tulang ekorlah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya Han memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embryo organizer atau pengorganisir pertama. 

Pada saat sperma membuahi sel telur (ovum), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan. 

Pertama, external epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus. 

Sedangkan lapisan kedua, internal hypoblast telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. 

Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana). Dari sinilah beberapa unsur dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk. 

Ectoderm membentuk kulit dan sistem syaraf pusat. Mesoderm membentuk otot halus sistem pencernaan (digestive), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin dan sistem urin (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa, dan kulit luar. Sedangkan endoderm membentuk lapisan pada sistim pencernaan, sistem pernafasan, organ-organ yang berhubungan dengan sistem pencernaan (seperti hati dan pankreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang disebut sebagai tulang ekor. 

Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada organ tamu (guest body). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak hancur. 

Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histologi dan pathologi di Sana’a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama. 

Seorang pakar, Jamil Zaini, mengatakan bahwa tulang ekor berfungsi sebagai perekam data yang merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energi positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energi negatif atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya. 

Fungsi sel tulang ekor dalam merekam data mengingatkan saya pada kotak hitam (black box). Pada setiap pesawat terbang, kotak hitam selalu ditempatkan pada bagian ekor pesawat, karena posisi itu yang paling aman ketika terjadi kecelakaan. Begitu pula pada tubuh manusia, rekaman data selama manusia hidup disimpan di bagian ekor. Sama fungsinya dengan sel tulang ekor, kotak hitam pesawat juga menyimpan data, data penerbangan, tetapi sel tulang ekor buatan Allah Ta’ala jauh lebih canggih daripada black box buatan manusia. 

Black box buatan manusia bisa mengalami kerusakan saat terjadi kecelakaan pesawat, sementara sel tulang ekor buatan Allah Ta’ala tetap utuh meski alam semesta hancur saat kiamat. Dari sel tulang ekorlah, jasad manusia akan dirakit menjadi utuh kembali setelah alam semesta hancur dalam peristiwa kiamat, karena sel tulang ekor merekam data perilaku manusia selama hidup, maka balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar dan manusia akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal masing-masing. 

Bayangkan, seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, bisa mengatakan bahwa dari tulang ekor, manusia akan dirakit kembali setelah jasadnya hancur lebur. Dan baru setelah 1.400 tahun kemudian pernyataan Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam tersebut terbukti benar secara ilmiah. Jelas itu adalah bukti bahwa seluruh perkataan Rasulullah adalah benar 100%. 

Sungguh kasihan sekali manusia yang tidak mau percaya dan yakin dengan perkataan-perkataan Rasululah shallallâhu alaihi wa sallam padahal sudah jelas sekali semua perkataan Rasul adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Allah Ta’ala berfirman: 

“Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (TQS. Fushshilat [41]: 53). 

Setelah kita mati, lalu dibangkitkan kembali menjadi manusia yang utuh, kita akan berhadapan dengan yaumul hisab. Apa itu yaumul hisab, akan kita bahas pada tulisan berikutnya.




Ulama Bukan Tuhan

Wahai saudaraku yang mengagung-agungkan para ulama terdahulu maupun terkini.

Jangan hanya karena para ulama terdahulu tidak memahami embriologi sehingga mereka tidak mampu menafsirkan Surah al-Mu'minun: 12-14 secara detil, kemudian kita menganggap bahwa menghubung-hubungkan embriologi dengan Al-Quran adalah utak-atik gathuk, hal baru yang diada-adakan, atau kebiasaan orang-orang Yahudi, padahal Allah SWT telah menjadikan Surah al-Mu'minun: 12-14 berkorelasi dengan embriologi sebagai bukti kebenaran Al-Quran. 

Jangan hanya karena para ulama terdahulu tidak memahami astrometri sehingga mereka tidak mampu menafsirkan Surah al-Anbiyaa : 33 secara detil, kemudian kita menganggap bahwa menghubung-hubungkan astrometri dengan Al-Quran adalah utak-atik gathuk, hal baru yang diada-adakan, atau kebiasaan orang-orang Yahudi, padahal Allah SWT telah menjadikan Surah Al-Anbiyaa : 33 berkorelasi dengan astrometri sebagai bukti kebenaran Al-Quran. 

Jangan hanya karena para ulama terdahulu tidak memahami geologi sehingga mereka tidak mampu menafsirkan Surah `Abasa: 26 secara detil, kemudian kita menganggap bahwa menghubung-hubungkan geologi dengan Al-Quran adalah utak-atik gathuk, hal baru yang diada-adakan, atau kebiasaan orang-orang Yahudi, padahal Allah SWT telah menjadikan Surah `Abasa: 26 berkorelasi dengan geologi sebagai bukti kebenaran Al-Quran. 

Jangan hanya karena para ulama terdahulu tidak memahami kriptografi sehingga mereka tidak mampu menafsirkan Surah al-Muddatstsir: 31 secara detil, kemudian kita menganggap bahwa menghubung-hubungkan kriptografi dengan Al-Quran adalah utak-atik gathuk, hal baru yang diada-adakan, atau kebiasaan orang-orang Yahudi, padahal Allah SWT telah menjadikan Surah al-Muddatstsir: 31 berkorelasi dengan kriptografi sebagai bukti kebenaran Al-Quran. 

Wahai saudaraku, ingatlah bahwa para ulama yang kita agung-agungkan itu hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan ilmu, mereka hanyalah makhluk Allah SWT yang ilmunya tidak dapat menyamai ilmu Allah SWT, mereka hanyalah manusia biasa yang sangat tidak patut disamakan dengan Allah SWT. 

Wahai saudaraku, Allah SWT Maha Luas kekuasaan-Nya, Allah SWT tak hanya berbicara melalui para nabi dan rasul-Nya, Allah SWT tak hanya berbicara melalui lidah para ulama terdahulu maupun ulama terkini. Allah SWT berbicara sekehendak-Nya, Allah SWT jika berkehendak bisa berbicara melalui seorang pria yang tak mampu membaca dan menulis, seseorang yang buta kedua matanya, seorang yang pincang satu kakinya, seorang yang cacat lidahnya, atau melalui seseorang yang hanya lulus SD. 

Allah SWT jika berkehendak bisa saja berbicara melalui gunung yang meletus, tanah yang terbelah, ombak yang menerjang karang, jam yang berdetak di dinding, kalender yang membisu di atas meja, itu semua bisa saja karena Allah SWT Maha Kuasa. 

Wahai saudaraku, bagi mereka yang tidak memahami cara Allah SWT berbicara melalui gunung yang meletus, Allah SWT telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk yang nyata. Al-Quran adalah kodifikasi pesan dari-Nya. Gunung meletus secara kasat mata hanyalah peristiwa alam biasa. Tetapi jika kita melihatnya dengan kacamata iman, maka kita akan memahaminya sebagai kalimat enkripsi yang tak akan dipahami maknanya sebelum digunakan kunci pembukanya. Kunci pembuka itu tak lain adalah Al-Quran. 

Wahai saudaraku, renungkanlah, masihkah kita mengagung-agungkan cara para ulama berkalam melebihi cara Allah SWT berbicara melalui Al-Quran dan gejala alam?



http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com