This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Daulah Khilafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daulah Khilafah. Tampilkan semua postingan

Mengapa Abu Jandal anggap TNI dan Polri itu babi? (5)

Artikel ini adalah bagian terakhir dari seri bahasan mengenai Abu Jandal yang dalam videonya dengan tegas dan berani menyatakan bahwa TNI, Polri, dan Banser identik dengan babi. Abu Jandal menggunakan Kaidah Fiqh (Qawa’id Fiqhiyyah) untuk memastikan bahwa tentara dan polisi adalah anshar thoghut (pelindung thoghut) yang dianggap kafir murtad karena bergabung bersama pasukan musuh.
Dalam kaidah fiqh, status individu dalam Thaifah Mumtani’ah Bisy Syaukah (kelompok yang memiliki kekuatan dan melindungi diri dengannya) sama seperti status kepala atau pimpinannya. Hal tersebut berlaku dalam segala hal, jika pimpinannya adalah muslim bughat (pemberontak) maka bawahannya juga bughat. Seperti kelompok Mu’awiyyah Ibnu Abu Sufyan radliyallahu ‘anhum, beliau waktu itu membangkang dan tidak mau membai’at terhadap Ali, maka setiap individu dalam kelompok yang membangkang ini disebut bughat, bukan hanya Mu’awiyyah sebagai pemimpinnya yang disebut bughat. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mengatakan tentang kabar kematian ‘Amar radliyallahu ‘anhu: “Kamu akan dibunuh oleh kelompok yang membangkang (baghiy)” dan Amar waktu perang Shiffin berada di pihak Ali dan terbunuh oleh pasukan Mu’awiyyah radliyallahu ta’ala ‘anhum ajma’in.

Jika ada sebuah kelompok Khawarij di Darul Islam dan mereka melindungi diri dengan kekuatan pasukannya, maka pimpinan dan seluruh bawahannya adalah Khawarij. Juga seperti kelompok Musailamah Al Kadzdzab, dia murtad di wilayah Darul Islam dan dia melindungi diri dengan pasukannya, maka setiap individu yang ada di dalam kelompoknya adalah murtad sama seperti pimpinannya.

Jika thaifah mumtani’ah ada di luar Darul Islam seperti thaghut sekarang, dimana mereka yang memegang kekuasaan pimpinannya adalah thaghut, maka setiap individu dari ansharnya seperti polisi atau tentara adalah sama kafirnya seperti thaghut pimpinannya.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa Abu Jandal dan mujahidin Daulah Khilafah lainnya menganggap status  anshar thaghut itu sama dengan thaghutnya, yaitu Kafir. Anshar thaghut baik tentara maupun polisi mendapatkan vonis seperti apa yang diterima oleh thaghutnya. Di dunia dia divonis kafir dan di akhirat juga dia kekal di dalam api neraka (jika sebelum mati tidak bertaubat). Karena alasan-alasan itulah Abu Jandal menganggap TNI dan Polri itu identik dengan babi.



Mengapa Abu Jandal anggap TNI dan Polri itu babi? (4)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Baik Abu Jandal maupun mujahidin Daulah Khilafah lainnya sama-sama mengikuti ijma’ dari para sahabat Rasulullah. Ketika terjadi riddah(kemurtaddan) di kalangan kabilah-kabilah Arab, diantaranya kelompok Tulaihah Al Asadiy dan kelompok Musailamah Al Kadzdzab si nabi palsu. Di sini thaghutnya adalah Tulaihah dan Musailamah sedangkan ansharnya adalah para pengikutnya. Di dalam tarikh disebutkan bahwa pengikut Musailamah Al Kadzdzab berjumlah sekitar 100.000 orang.
Khalifah Abu Bakar dan semua shahabat ijma’ (sepakat) bahwa para pengikut Musailamah dan para pengikut nabi-nabi palsu yang lainnya adalah orang-orang murtad. Padahal kebanyakan para pengikut Musailamah tertipu oleh seorang da’i yang diutus oleh Rasulullah ke Yamamah tapi kemudian dia malah membelot kepada Musailamah dengan membenarkan apa yang diucapkan Musailamah dan bahkan bersaksi di hadapan masyarakat Banu Hanifah di Yamamah bahwa benar Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam telah menyertakan Musailamah dalam kenabian, masyarakatnya pun mempercayainya dan akhirnya mereka ikut mendukung Musailamah. Akan tetapi para sahabat ijma’ bahwa mereka yang mengikuti Musailamah itu divonis murtad.

Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah juga mengatakan bahwa: “Para ‘ulama ijma’ (setelah menyebutkan bahwa mereka itu tertipu oleh saksi tadi) bahwa mereka itu murtaddun walaupun mereka itu bodoh akan hal itu karena tertipu oleh saksi palsu itu”.

Sahabat ijma’ atas kafirnya mereka, bahkan para sahabat memerangi mereka sampai akhirnya mereka terdesak dalam peperangan, kemudian datang utusan Buzakhakh kelompok Tulaihah Al Asadiy kepada Khalifah Abu Bakar untuk meminta damai. Abu Bakar radliyallahu ‘anhu tidak menerima permintaan damai mereka kecuali dengan syarat-syarat tertenu, dan di antara syarat yang diutarakan oleh Abu Bakar dan disepakati oleh para shahabat yang harus mereka terima adalah mereka harus bersaksi bahwa “orang yang mati di barisan para pengikut Musailamah itu masuk neraka”. Itulah syarat yang harus mereka terima.

Kisah tersebut merupakan ijma' dari para sahabat atas kekafiran atau kemurtaddan anshar thaghut Musailamah Al Kadzdzab dan yang lainnya. Dan dalam kisah itu ada sekelompok kaum muslimin dalam barisan anshar Musailamah, tapi mereka tidak cepat bergabung dengan barisan kaum muslimin, padahal ada kemampuan untuk bergabung karena kekuatan pasukan kaum muslimin yang mendominasi, di antara kelompok itu adalah Muja’ah Ibnu Murarah. Dia tidak mengingkari Musailamah dan tidak cepat bergabung dengan pasukan kaum muslimin, dia ada di antara tawanan pasukan Khalid Ibnul Walid. 

Muja’ah mengatakan: “Saya ini muslim dan saya tidak pernah merubah keyakinan saya”, maka Khalid berkata: “Kamu ini sudah berubah dari sebelumnya”, Muja’ah mengatakan : “Jika seandainya Musailamah itu nabi palsu maka itu urusan dia, karena seseorang tidak memikul dosa orang lain”, kemudian kata Khalid : “Kenapa kamu tidak mengingkari seperti Tsumamah dan Al Yasykuriy ?, jika kamu tidak mampu, lalu kenapa kamu tidak cepat bergabung dengan kami ketika mendengar pasukan kami datang ?”. Di sini Khalid Ibnu Walid memperlakukan Muja’ah yang ada di barisan Musailamah sebagai orang kafir dengan menjadikannya tawanan, padahal Muja’ah tidak mendukungnya dan hanya berada di barisan Musailamah.

Yang menjadi inti di sini adalah sikap atau ijma' sahabat atas kekafiran Musailamah dan ansharnya, dan ketika mengambil perjanjian damai dengan mereka, maka disyaratkan bahwa mereka harus bersaksi bahwa orang-orang yang mati di antara mereka adalah calon penghuni neraka. 

Bersambung...






Mengapa Abu Jandal anggap TNI dan Polri itu babi? (3)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Masih terkait video ancaman Abu Jandal kepada TNI, Polri, dan Banser. Abu Jandal atau pun mujahidin Daulah Khilafah lainnya belajar dari sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejarah mencatat bahwa ketika terjadi perang Badr, di antara kaum musyrikin ada orang-orang yang mengaku Islam tetapi tidak hijrah, kemudian mereka dipaksa untuk ikut berperang di barisan kaum musyrikin dalam rangka memerangi kaum muslimin. Yang mati dari barisan kaum kafir Quraisy sebanyak 70 orang dan yang menjadi tawanan adalah 70 orang. Dan di antara mereka terdapat Al ‘Abbas (paman Rasulullah), kemudian ketika ditangkap Al ‘Abbas mengatakan: “Ya Rasulullah, saya ini dipaksa!”.


Menanggapi pernyataan Al ‘Abbas itu, Rasul lalu berkata: “Dhahir kamu di barisan kaum musyrikin memerangi kami, adapun rahasia bathin kamu maka urusan itu atas Allah, tebus diri kamu dan dua keponakanmu!”.

Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan Al ‘Abbas sebagai orang kafir dengan menawannya dan menyuruh Al ‘Abbas untuk menebus dirinya sendiri, padahal Al ‘Abbas mengatakan bahwa “saya ini dipaksa!”.

Bila saja orang yang berada di barisan kaum musyrikin untuk memerangi kaum muslimin dengan kondisi dipaksa adalah diperlakukan sebagaimana halnya orang kafir (secara hukum dunia), maka apa gerangan dengan orang yang berada dibarisan kaum musyrikin atau di barisan thaghut tanpa dipaksa tapi penuh ikhlash dan dengan sukarela?, bahkan dengan cara menyuap agar mereka bisa masuk ke dalam barisannya, mereka mendaftarkan diri dengan mendatangi setiap Kodim atau Polda untuk menjadi calon anshar thaghut, dan ketika sudah masuk menjadi anshar thaghut mereka merasa bangga dengan Korps-nya atau bangga dengan seragamnya..??! maka mereka lebih kafir lagi…!

Ini adalah nash hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperlakukan Al ‘Abbas sebagai orang kafir karena berada di barisan kaum musyrikin dalam rangka memerangi kaum muslimin di Badr, meskipun Al ‘Abbas ini dalam kondisi dipaksa.

Jadi hukum orang yang berada di barisan kaum musyrikin adalah kafir, sebagaimana juga apa yang menimpa pasukan yang akan menginvasi Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membenamkan mereka semuanya mulai dari barisan paling depan hingga paling belakang, Allah membenamkan mereka semua dengan tanpa memilah-milah antara yang dipaksa dengan yang tidak atau orang yang sedang musafir dalam perjalanannya dan berpapasan dengan pasukan mereka, dan dengan tanpa memilah mana orang yang kafir dan mana orang yang muslim, padahal Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang menyembunyikan keimanan di antara mereka dan Maha Mampu untuk memisahkan mereka, Rasul mengatakan tentang kisah ini: “Mereka dibenamkan semuanya dan Allah membangkitkan berdasarkan niatnya”.

Begitu juga bila seandainya ada salah seorang dari barisan thaghut itu yang menyembunyikan keimanannya, namun dia belum berlepas diri dari barisannya karena menunggu suatu moment tertentu dan waktu yang tepat, maka kaum mujahidin tidak disalahkan bila dia (orang yang menyembunyikan keimanan itu) tertembak oleh pasukan mujahidin. Jika saja Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu tidak memilah-milah orang yang berada di barisan kaum musyrikin yang memerangi kaum muslimin, maka apa gerangan dengan seorang mujahid yang hanya manusia biasa yang tidak mengetahui hal yang ghaib?

Bersambung...






Mengapa Abu Jandal anggap TNI dan Polri itu babi? (2)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Abu Jandal dan mujahidin Daulah Khilafah lainnya tidak asal ngomong soal tentara atau polisi. Mereka memiliki argumentasi yang didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melanjutkan bahasan yang lalu, kali ini akan dibahas dalil-dalil dari Al-Qur’an yang dipahami oleh Abu Jandal dan teman-temannya.



1. An Nisaa’ [4]: 76

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah wali-wali syaitan itu” (TQS. An Nisaa’ [4]: 76)

Dalam ayat ini Allah menetapkan vonis bahwa orang yang berperang di jalan Allah maka dia adalah orang yang beriman, sedangkan orang yang berperang di jalan thaghut adalah orang kafir.

Orang yang berperang, baik itu berperang dengan lisan, tulisan atau dengan senjata dan fisiknya. Jika dia berperang atau melakukan pembelaannya di jalan Allah, maka dikatakan sebagai orang-orang yang beriman, dan orang yang berperang atau melakukan pembelaan di jalan thaghut, maka itu adalah orang kafir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memvonis secara sharih (jelas dan gamblang) bahwa orang yang berjuang dalam rangka mengokohkan sistem thaghut atau membela thaghut adalah orang kafir, baik itu dengan lisan/tulisan seperti para ‘ulama suu’ atau orang-orang media atau pun orang yang terjun dengan fisik dan senjata seperti aparat tentara dan polisi atau orang-orang intelijen atau yang sejenisnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan tentang orang ini: “maka perangilah wali-wali syaitan itu”.

Dari ayat ini diambil kaidah baku bahwa hukum asal pada anshar thaghut adalah hukumnya kafir. Atau hukum asal pada orang yang menampakkan sikap pembelaan terhadap thaghut adalah adalah hukum kafir. Atau hukum asal dari barisan anshar thaghut adalah hukum kafir.


2. Al Maidah [5]: 51

“Barangsiapa yang tawalliy kepada mereka maka ia termasuk golongan mereka” (TQS. Al Maidah [5]: 51)

Para ulama menjelaskan bahwa barang siapa membela mereka atas kaum muslimin maka dia termasuk golongan mereka.

Anshar thaghut yang membela-bela dengan lisan/tulisan atau dengan fisik dan senjata ini, baik itu dalam rangka untuk memerangi kaum muslimin mujahidin atau tawalliy kepada hukumnya itu sendiri berupa sikap setuju dan mengikutinya. Orang yang tawalliy kepada mereka Allah vonis bahwa dia termasuk golongan mereka, yaitu kafir sama halnya dengan mereka. Barangsiapa tawalliy kepada orang kafir apa saja keyakinannya, maka dia sama kafirnya dengan orang kafir tersebut.


3. Al Baqarah [2]: 257

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran), mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (TQS. Al Baqarah [2]: 257)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan bahwa orang yang walinya atau pemimpinnya adalah thaghut, maka dia adalah orang kafir, sedangkan  bagi anshar thaghut pemimpin mereka yang mereka bela-bela adalah thaghut, maka Allah mencap kafir orang yang menjadikan thaghut menjadi walinya.


4. Al Baqarah [2]: 98

“Barang siapa yang mana dia itu musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (TQS. Al Baqarah [2]: 98)

Ayat ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi, dimana ketika mereka mengetahui bahwa yang turun membawa wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah malaikat Jibril, maka orang-orang Yahudi tidak menyukainya. Mereka mengatakan bahwa “itu (Jibril) adalah musuh kami”. Padahal malaikat adalah rasul Allah dan mereka hanya memusuhi Jibril saja, akan tetapi mereka Allah vonis dengan ayat ini.

Orang yang memusuhi satu rasul Allah, baik itu rasul dari kalangan malaikat atau manusia, maka sesungguhnya orang itu telah menjadi musuh Allah, musuh rasul-Nya, musuh malaikat-malaikat-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memvonisnya sebagai orang kafir.

Bentuk permusuhan macam apa yang lebih dasyat daripada sikap thaghut dan ansharnya yang mana mereka meninggalkan ajaran Allah dan justeru malah membuat ajaran atau hukum sendiri yang diambil dari orang-orang bejat dan cabul, mereka memerangi wali-wali Allah yang akan menegakkan hukum Allah, mereka memenjarakannya, menyiksanya, membunuhnya, mempersempit hidupnya, dan malah memberikan keleluasaan bagi orang-orang bejat, para pelacur, para penjudi dan orang-orang durjana, orang-orang kafir, orang-orang murtad dan orang zindiq untuk merusak ajaran Allah dan merusak di muka bumi ini… bentuk permusuhan terhadap Allah macam apa yang lebih dahsyat dari sikap macam tadi…??! Di sini Allah mengatakan bahwa orang yang seperti itu adalah orang-orang kafir.

Sedangkan anshar thaghut, mereka dibuat dalam rangka mengokohkan hukum thaghut dan dalam rangka mengokohkan ajaran yang dimusuhi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, anshar thaghut dan orang-orang yang semacam mereka, Allah katakan bahwa mereka adalah musuh bagi Allah dan mereka adalah orang-orang kafir.

Jadi, ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa siapa yang memusuhi satu rasul Allah, maka itu artinya memusuhi semua malaikat dan memusuhi semua para rasul. Sebagaimana Allah juga mengatakan: “Kaum Nuh telah mendustakan semua rasul” padahal kita mengetahui sebelum Nabi Nuh belum ada rasul karena beliau adalah rasul pertama, tapi Allah memvonis bahwa kaum Nabi Nuh mendustakan para Rasul. Orang mendustakan Nabi Nuh maka itu telah mendustakan seluruh rasul-rasul Allah yang akan diutus setelahnya.

Pada bahasan berikutnya, akan disampaikan dalil-dalil dari As-Sunnah.

Bersambung..

Mengapa Abu Jandal anggap TNI dan Polri itu babi? (1)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Dalam video yang diunggah Abu Jandal, jelas sekali Abu Jandal mengatakan bahwa TNI dan Polri itu babi. Koq bisa sampe segitunya ya Abu Jandal menganggap TNI dan Polri itu babi? Apa sih yang melatarbelakangi pemikirannya? Benarkah kalimat yang diucapkan Abu Jandal itu?
Abu Jandal menyetujui pendapat bahwa semua pemerintah harus menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Jika pemerintah suatu negara tidak menerapkan syariat Islam, maka pemerintah itu dicap sebagai Thagut. Secara sederhana Thaghut di sini dapat dimaknai sebagai orang yang melampaui batas kewenangannya. Thaghut memiliki Anshar Thaghut yakni orang-orang yang membela, berjuang, atau berperang untuk membela dan mempertahankan kedudukan dan kekuasaan Thaghut, baik dengan lisan, tulisan, atau pun dengan kekuatan (senjata).

1.      Anshar Thaghut Dengan Lisan & Tulisan

Yaitu para pembela thaghut yang berjuang membela thaghut dengan lisan, dan kelompok yang masuk di dalamnya adalah ‘ulama-‘ulama suu’ (jahat) yang membela-bela thaghut dengan menyatakan bahwa pemerintah (Thaghut) adalah pemerintah Islam atau Amirul Mu’minin atau pemimpin kaum muslimin yang wajib diberikan loyalitas, sedangkan orang yang memberontak terhadap thaghut ini atau orang yang berusaha untuk menjatuhkannya, maka mereka katakan sebagai bughat (pembangkang) atau sebagai Khawarij. Atau para Mujahidin yang berupaya untuk menjatuhkan dan memeranginya, mereka (ulama-ulama suu’) katakan sebagai bughat atau Khawarij. Maka ‘ulama yang seperti ini termasuk dalam barisan anshar thaghut.

Juga masuk ke dalam bagian ini adalah para i’lamiyyun seperti orang-orang media yang membela thaghut dengan lisan dan atau tulisannya, yang menyebarkan paham (isme) thaghut atau membela sistem thaghut dengan lisannya melalui media-media mereka, baik itu televisi, media cetak, radio, atau melalui apa saja yang membela-bela thaghut dan membantu mengokohkan sistem thaghut, maka ini termasuk anshar thaghut.


2.   Anshar Thaghut yang Membela dengan Senjata atau dengan Fisiknya

Dalam kelompok ini masuk di dalamnya aparat-aparat thaghut yang memang secara sengaja mereka dibentuk dan diadakan untuk tujuan mengokohkan atau untuk menjadi aparat pelindung yang menegakkan hukum thaghut atau untuk mengokohkan singgasana thaghut atau sistemnya.

Kepolisian merupakan alat pemerintah yang berfungsi menjaga keamanan dan sebagai penegak hukum. Mereka adalah sebagai aparat thaghut yang menegakkan hukum thaghut dan mereka juga yang menghadang orang-orang yang berupaya untuk merongrong hukum thaghut atau melanggar hukum thaghut.

Militer atau tentara adalah pelindung yang menjaga pemerintah dari serangan yang berasal dari luar dan dalam negeri. Tentaralah yang mengokohkan kekuasaan pemerintah. Tentara  dibentuk sebagai alat yang melindungi pemerintah, masyarakat, sistem thaghut beserta para thaghutnya.

Kelompok atau front atau barisan atau apa saja yang menggunakan fisik dan senjatanya dalam rangka mengokohkan sistem thaghut ini, baik itu undang-undangnya atau sistem demokrasinya atau pemerintahan kafirnya ataupun falsafah syiriknya, maka mereka itu termasuk barisan anshar thaghut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam banyak  ayat Al Qur’an telah menggolongkan atau telah menyamakan thaghut bersama ansharnya di dalam hukum atau sanksi di dunia dan sanksi di akhirat.

Sanksi di dunia sebagaimana saat Allah menghancurkan Fir’aun bersama bala tentaranya. Fir’aun adalah thaghutnya, kemudian bala tentaranya adalah anshar-nya. Allah telah menghancurkan mereka semua, Allah menyamakan mereka semua dan tidak memilah-milah antara Fir’aun dengan tentaranya atau thaghut dengan ansharnya, Allah Ta’ala mengatakan:

...“Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela”. (TQS. Adz Dzariyaat [51]: 40)

Di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyamakan Fir’aun dengan bala tentaranya (anshar-nya) dalam hukum atau sanksi yang diberikan kepada mereka di dunia ini.

Kemudian dalam masalah hukum atau vonis di akhirat yang berkaitan dengan masalah dosanya, maka Allah juga menyamakan vonis bagi mereka, yaitu Fir’aun dengan tentaranya atau thaghut dengan ansharnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

“Sesungguhnya Fir’aun dan Haaman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”. (TQS. Al Qashash [28]: 8)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Fir’aun (thaghutnya), Hamman (dia adalah menterinya) atau para pejabat yang ada di sekelilingnya, dan para tentara-tentaranya; seperti polisi atau aparat militernya, bahwa mereka adalah orang-orang yang bersalah.

Dalam dua ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyamakan mereka (thaghut dan ansharnya) dengan hukum atau sanksi, baik itu di dunia maupun di akhirat. Dalam surat Adz Dzaariyat tersebut dikisahkan bahwa Allah menenggelamkan mereka semua tanpa memilah-milah mana thaghut atau mana yang ansharnya, dan di dalam surat Al Qashash Allah juga memvonis mereka sebagai orang-orang yang bersalah.

Fir’aun dan para pejabat bawahannya serta bala tentaranya atau thaghut dan ansharnya Allah samakan dalam vonis di dunia dan  akhirat, dikarenakan si thaghut ini tidak bisa menjalankan kekuasannya atau melaksanakan hukum-hukum bathilnya, kekafiran dan kezhalimannya tanpa ansharnya itu. Thaghut hanya memerintahkan atau menginstruksikan saja sedangkan ansharnyalah yang langsung melaksanakan kezhalimannya. Tanpa ada anshar di sekeliling thaghut, maka si thaghut tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ansharnyalah yang mengokohkan thaghut berikut sistemnya.

Seandainya ada sekelompok masyarakat yang ingin membunuh thaghut yang mana padahal dia hanya sendirian, sebelum berhadapan dengan thaghut maka sekelompok masyarakat ini akan berhadapan dengan ansharnya terlebih dahulu, ansharnyalah yang pertama kali menghalangi sekelompok masyarakat itu untuk membunuh thaghutnya. Jadi thaghut ini dilindungi oleh ansharnya. Anshar ini sebagai pasak atau pengokoh singgasana thaghut dan pemerintahannya, dengan anshar inilah si thaghut itu melaksanakan kebathilannya. Dengan sebab inilah Allah memvonis para anshar ini sebagai autad (pasak), Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

“Dan Fir’aun yang mempunyai autad/pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti ‘adzab” (TQS. Al Fajr [89]: 10-13)

Di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan bahwa Fir’aun kokohnya adalah dengan autad (pasak/paku), tanpa ada anshar maka kekuasaan thaghut tidak akan berlangsung lama. Kokohnya sistem thaghut ini adalah karena adanya anshar di sekeliling thaghut. Sehingga sanksi yang akan mereka terima adalah sama, baik itu thaghutnya maupun ansharnya, dan begitu juga dalam sisi kebersalahannya…

Bersambung...

ISIS Ancam TNI dan Polri?

Beberapa hari ini sedang anget-angetnya media massa mewartakan kisah video ancaman Abu Jandal kepada TNI, Polri, Densus, dan Banser yang diunggah di situs Youtube. Kepolisian RI berupaya menelusuri jejak sang pembuat video karena Polri khawatir gegara video tersebut nyawa para personel TNI dan Polri dimana pun berada bakal terancam. Kini Polri berupaya meningkatkan kewaspadaan jajarannya agar ancaman Abu Jandal tak menjadi kenyataan.
"Anggota yang bertugas di pos agar lebih aktif lagi mengawasi lingkungan. Dari lima orang yang bertugas, biasanya dua orang tidur, tiga orang berjaga. Upayakan yang berjaga empat orang, hanya satu orang yang tidur," kata Karopenmas Divhumas Polri Kombes Pol Agus Rianto, di Jakarta, Jumat (26/12/2014).

Agus juga meminta masyarakat untuk membantu Polri memberikan informasi bila mengetahui adanya kegiatan mencurigakan di lingkungan sekitar mereka.

Seperti yang ramai diberitakan, pada Kamis (25/12/2014) kemarin, beredar tayangan video berdurasi 4 menit satu detik yang diunggah ke situs Youtube. Dalam video tersebut, seorang pria berjanggut dan mengenakan pakaian serba hitam, diduga bernama Abu Jandal, menantang Panglima TNI, Polri termasuk Densus 88 dan Barisan Anshor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama untuk datang ke Daulah Khilafah dan berperang dengan para mujahidin Daulah Khilafah. Ia mengatakan, pihaknya tidak gentar untuk membela tegaknya syariat Islam di muka bumi.

"Pesan ini saya tujukan kepada TNI, Polri, Densus, dan Banser, kami menunggu kedatangan kalian. Kami telah mendengar bahwa kalian menginginkan untuk membantu pasukan koalisi untuk melenyapkan Daulah Khilafah ini," kata Abu Jandal.

Video yang direkam di sebuah ruangan itu pun berisi ancaman bahwa mereka tidak segan untuk membantai para aparat yang turut bergabung dengan negara barat dalam memerangi Daulah Khilafah.

"Penegakan syariat Allah harus dimulai dengan memerangi kalian dan membantai satu per satu dari kalian, TNI, Polri, Densus, dan Banser, yang mana hari ini menyombongkan diri untuk menentang agama Allah, menentang penegakan syariat Allah, dan mengatakan NKRI harga mati. Ketahuilah bagi kami syariat Allah adalah harga mati," kata dia.  

Ada beberapa hal yang menarik untuk dikomentari mengenai berita tersebut. Perlu kita ketahui bersama, ISIS saat ini udah ga ada lagi, yg ada sekarang adalah Daulah Khilafah yang kekuasaannya membentang dari Aleppo di Suriah hingga Mosul di Irak. Daulah Khilafah bukanlah ormas kecil seperti FPI, tapi sebuah negara berdaulat yang punya wilayah kekuasaan, punya pemerintahan yang lengkap dengan segala perangkat pendukungnya, punya militer, dan pemerintahnya didukung oleh rakyatnya. Jadi, kalo masih ada media massa yang memberitakan soal ISIS, jelas itu pembodohan sekaligus pembohongan publik. Barang yang sudah ga eksis lagi koq diberitakan. Basi.

Yang lebih lucu lagi adalah para komentator berita-berita tentang ancaman Abu Jandal kepada TNI dan Polri. Lha jelas sekali Abu Jandal cuma ngancam TNI, Polri, Densus, dan Banser. Abu Jandal sama sekali ga ngancam keselamatan masyarakat Indonesia yang ga bersalah, koq komentatornya malah beranggapan Abu Jandal mengancam warga sipil. Jelas salah kaprah. Yang seharusnya ketar-ketir itu adalah TNI dan Polri, karena merekalah yang jadi objek ancaman, bukan masyarakat biasa. Masyarakat umum ga perlu takutlah dengan si Abu Jandal dan kawan-kawannya, mereka itu ga membahayakan nyawa kita. Mereka cuma mau perang dengan TNI dan Polri aja koq.

Polri ga usah capek-capek nyari pembuat dan penyebar video ancaman itu, sia-sia aja nyari mereka. Lha mereka ada di Daulah Khilafah di Timur Tengah sono, sementara Polri ga bakal bisa nyiduk si Abu Jandal di sana. Silakan saja Polri terjunkan Densus dan TNI terjunkan Kopassus ke Daulah Khilafah kalo berani, bisa-bisa Densus dan Kopassus duluan yang disikat habis oleh para mujahidin Daulah.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu juga tak ketinggalan menanggapi video Abu Jandal usai memberikan pengarahan di hadapan ratusan perwira TNI Kodam IX/Udayana Bali.

"Udah dengar ya? Itu bukan Islam itu. Islam tidak seperti itu, Islam tidak mengajarkan untuk bunuh-membunuh orang. Itu yang merusak agama Islam di mata agama lain, ya itu,"" ujar Ryamizard di hadapan media di Denpasar, Bali, Jumat (26/12/2014).

Betul Pak Menhan, Islam tidak mengajarkan untuk bunuh-membunuh, tapi Islam memperbolehkan muslim untuk membela diri kalau diserang. Yang jadi permasalahan itu adalah niat Panglima TNI untuk membantu pasukan koalisi salibis pimpinan AS untuk menyerang Daulah Khilafah. Di situlah akar sekaligus pokok permasalahannya. TNI dianggap mau bekerja sama dengan orang-orang kafir untuk memerangi Daulah Khilafah, makanya video itu hadir sebagai bentuk komunikasi adanya upaya Daulah Khilafah membela diri dari serangan kelompok kafir harbi. Jadi sah-sah saja Abu Jandal mengunggah video itu karena mereka dalam posisi terancam dan Islam memperbolehkan mereka untuk membela diri.

Coba perhatikan lagi satu per satu kalimat yang diucapkan Abu Jandal, adakah kalimat yang menegaskan bahwa mereka para mujahidin akan membantai seluruh orang Indonesia? Ga ada kan? Karena mereka tau aturan, ga bakal membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang yang tak berdaya, yang mereka akan serang hanyalah tentara-tentara dan polisi-polisi kafir, baik kafir tulen maupun kafir karena murtad, yang menjadi musuh mereka.

Bagi anda yang masih mendukung TNI dan Polri, coba pikir-pikir lagi deh, siapa yang kalo perang, trus mati di medan perang, trus nanti di akhirat bakal masuk surga, apakah TNI dan Polri yang menentang hukum Allah Ta’ala atau mujahidin Daulah Khilafah yang menegakkan dan membela syariat Allah Ta’ala? Sementara surga itu adalah milik Allah Ta’ala..

Bagi anda yang masih menganggap Pancasila dan NKRI itu harga mati, coba pikir-pikir lagi deh, bisa ga NKRI dan Pancasila yang anda bela mati-matian sekarang ini menyelamatkan anda dari siksa api neraka nanti di akhirat? Sementara neraka itu bukan milik NKRI..

Bagi seluruh Warga Negara Indonesia dimana pun anda berada, ga usah takut atau khawatir, para mujahidin Daulah Khilafah itu bukan teroris yang membantai wanita dan anak-anak. Mereka hanya akan menyerang TNI dan Polri yang dianggap murtad, bahkan diidentikkan dengan babi oleh Abu Jandal.

Kita nantikan sama2, tak lama lagi peta dunia akan berubah. Segera setelah Nuri al-Maliki dan Bashar al-Assad lengser, negara Suriah dan Irak akan hilang dari peta dunia, berganti dengan sebuah wilayah baru yang menerapkan syariat Islam secara murni dan konsekuen, Daulah Islamiyah, Daulah Khilafah.




http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com